keterlambatan bidikmisi yang membuat banyak mahasiswa mengelu dan susah dalam menangani jumlah kebutuhan dalam memenuhi kebutuhan kuliah dan biaya hidup
Untuk yang pertama kalinya saya
akan membuat sebuah tulisan, sebenarnya saya membuat tulisan ini hanya sebatas
untuk mengeluarkan apa isi hati saya dan apa yang saya rasakah. Kali ini saya
akan menulis mengenai keterlambatan pencairan living cost bidikmisi. Seperti
yang kita semua tahu bahwa mahasiswa bidikmisi diperuntukkan mahasiswa yang
kurang mampu dan ingin kuliah. Semakin hari kuota bidikmisi sendiri semakin
bertambah, selain itu juga mulai tahun kemarin living cost bidikmisi semula
hanya 600ribu naik menjadi 650ribu. Kenaikan living cost tersebut tentu
disambut oleh mahasiswa bidikmisi.
Namun, mulai pada awal tahun 2017 pencairan living cost bidikmisi semakin tidak jelas waktunya dan yang paling
parah adalah untuk periode bulan September-November 2019 karena keterlambatan
pencairan bidikmisi memakan waktu yang sangat lama mencapai hampir dua bulan
padahal kuliah semester ganjil sudah dimulai pada bulan september namun sampai
sekarang suah hampir 2 bulan bidikmisi tak kunjung cair. Alasan terkait
keterlambatan pencairan tersebut karena keterlambatan universitas dalam
mengirimkan evaluasi akademik kepada DIKTI. Menurut saya hal ini tidak bisa
dijadikan sebagai alasan, bahkan setelah mengirimkan evaluasi akademik pun
masih harus menunggu lama satu bulan cair hingga akhirnya cair. Ketika para
mahasiswa bidikmisi menanyakan ini kepada DIKTI, pihak DIKTI hanya bisa
menjawab mohon bersabar karena sedang diproses.
Apakah hanya dengan kata 'sabar'
mahasiswa bidikmisi dapat kenyang? Apakah dengan kata 'sabar' mahasiswa
bidikmisi dapat terhindar dari pengusiran oleh pemilik kost? Apakah dengan kata
'sabar' mahasiswa bidikmisi dapat membiayai penelitian skripsi mereka? Apakah
semuaitu dapat dibayar dengan kata 'sabar'?
Ketauilah para penguasa negeri
ini, hidup mahasiswa bidikmisi tak seperti hidup kalian. Banyak mahasiswa
bidikmisi yang hanya bertumpu dari beasiswa bidikmisi untuk menghidupinya tanpa
bergantung kepada orang tua karena memang kehidupan keluarganya serba kekurangan.
Lantas apakah untuk makan harus menunggu pencairan yang memakan proses yang
sangat lama, apakah terlebih dahulu harus ada mahasiswa bidikmisi yang
meninggal dunia akibat tidak pernah makan baru kalian akan berbenah?
Saya tahu, semua ada prosedurnya
dan saya paham mengenai hal ini karena apabila tidak sesuai dengan prosedur
yang ada akan kena OTT oleh KPK. Namun, sistem yang ada pada pencairan
bidikmisi sendiri saya rasa terlalu rumit padahal sistem yang membuat adalah
manusia oleh karena itu secara tidak langsung manusia nya lah yang membuat semua urusan ini menjadi rumit.
Kalaupun ada sistem yang lebih efisien kenapa tidak menggunakan sistem
tersebut? kenapa lebih suka sistem yang sulit?
Lagi lagi permasalahan klasik di
negara ini adalah masalah birokrasi. Padahal untuk beasiswa PPA sendiri yang
sama-sama bersumber dari DIKTI sudah beberapa kali cair. Sedangkan bidikmisi
tidak ada kejelasan sama sekali dan entah hilang ditelan oleh ruang dan waktu.
Padahal seperti yang kita semua tahu dana bidikmisi ditujukan untuk rakyat
miskin yang ingin melanjutkan kuliah sedangkan PPA tidak. Namun kenapa yang
didahulukan adalah beasiswa PPA? bukankah mereka sudah ada untuk biaya
kehidupan sehari-hari? Sedangkan disisi lain mahasiswa bidikmisi menahan lapar
demi melanjutkan kuliah.
Alasan banyaknya mahasiswa yang
memperoleh dana bidikmisi sehingga menyebabkan keterlambatan. Bukankah sudah
ada anggaran untuk jumlah mahasiswa penerima bidikmisi tersebut? Seperti yang
saya tahu ketika mengikuti kuliah Politik Keuangan Daerah, belanja negara
ditentukan terlebih dahulu baru kemudian pemerintah menentukan sumber dana mana
saja untuk mencukupi belanja negara tersebut. Sehingga, tidak mungkin apabila
tidak ada dana untuk beasiswa bidikmisi.
Saran untuk pemerintah, sebaiknya
diadakan evaluasi kembali mengenai beasiswa bidikmisi mulai dari tahap awal
yaitu seleksi hingga pencairan. Jika terus menerus terlambat dalam pencairan
seperti ini, akan berdampak pada mahasiswa yang terancam tidak lanjut kuliah
karna sudah tidak ada biaya lagi. Kemudian, sebaiknya kuota bidikmisi dikurangi
karena seperti yang saya lihat di kehidupan nyata banyak mahasiswa bidikmisi
yang sebenarnya ia tidak berhak mendapatkannya. Apabila terus menerus terjadi
hal semacam ini, yang akan terjadi adalah pemborosan anggaran. Selain itu,
mulai dari awal seleksi persyaratan harus diperketat serta survey juga harus
dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar mempunyai komitmen.
Comments
Post a Comment